Imam al-Hafizh Ibnu Rojab al-Hanbali rahimahullah berkata:
“Di antara tanda ilmu itu bermanfaat yaitu ilmu tersebut akan mengarahkan pemiliknya untuk melarikan diri dari gemerlap kehidupan dunia, diantaranya yang paling dahsyat adalah Jabatan, popularitas dan sanjungan manusia. Oleh karenanya, menghindari perkara tersebut merupakan tanda bahwa ilmu itu bermanfaat. Namun jika jabatan, popularitas dan sanjungan manusia itu didapatkan tanpa kesengajaan maka (dengan ilmunya) orang tersebut akan berada dalam kekhawatiran akan dampak tiga hal tersebut. Sebagaimana ia juga khawatir perkara dunia tadi merupakan tipu daya Allah `azza wajalla dan istidraj (penangguhan siksa). Sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal juga sangat khawatir terhadap dirinya sendiri karena ketenaran dan popularitas yang beliau dapatkan.
Tanda ilmu bermanfaat berikutnya yaitu sang empunya ilmu tidak memproklamirkan keilmuannya, tidak menyombongkan ilmunya kepada siapapun dan tidak menyematkan kebodohan kepada orang lain kecuali kepada orang-orang yang menyelisihi sunnah. Namun hal itu dilakukan sebagai bentuk marah karena Allah `azza wajalla bukan karena kepentingan pribadi dan bukan karena ingin melejitkan namanya agar lebih tinggi dari yang lain.
Ada pun orang yang ilmunya tidak bermanfaat maka tidak ada hal lain yang menyibukkannya kecuali menyombongkan dirinya dan menyebutkan kelebihan-kelebihannya kepada orang lain serta menyematkan kebodohan kepada yg lain sehingga mengokohkan dirinya di puncak keilmuan. Hal ini merupakan perangai yang paling buruk dan paling keji. Bisa jadi orang tersebut menyematkan kebodohan dan kelalaian kepada ulama-ulama salaf terdahulu. Sikap tersebut melazimkan rasa cinta yang berlebihan terhadap dirinya, gelap mata akan aib dirinya dan berperasangka buruk terhadap ulama-ulama salaf terdahulu.
Berbeda dengan Ahli ilmu yang bermanfaat yang sikap mereka sangat berlawanan dengan sikap di atas. mereka tidak gelap mata dengan keburukan dan kekurangan diri sendiri, mereka berbaik sangka terhadap para ulama pendahulu mereka. Mereka mengakui dengan lisan dan hati mereka akan keutamaan para pendahulu mereka. Meraka pula menyadari kelemahan mereka untuk bisa mendekati bahkan melebihi tingkat keilmuan dan derajat para pendahulu mereka.
Alangkah bagusya perkataan Imam Abu Hanifah saat ditanya tentang mana yang paling mulia antara `Alqomah dan al-Aswad?. Beliau menjawab: “Demi Allah tidak layak bagi kami untuk menyebutkannya, bagaimana mungkin kami membedakan keutamaan di antara keduannya?
Ibn al-Mubarak, ketika disebutkan kepadanya akhlak para salaf beliau langsung bersyair:
Janganlah bandingkan kita dengan mereka (ulama salaf)
Orang yang sehat tidak sama dengan orang sakit ketika berjalan
Disarikan dari Kitab Fadl Ilm al-Salaf `Ala al-Khalaf karya Al-Hafizh Ibn Rojab al-Hanbali