SETELAH USIA USAI, JEJAK APA YANG DITINGGALKAN?



Sepanjang apa pun usia seseorang ia tetaplah memiliki batasan, dan batasan itu adalah kematian. Saat seseorang telah menemui ajalnya, bukan hanya detak jantung yang berhenti namun amalnya pun ikut berhenti. Namun permasalahannya bukanlah soal kematian tapi warisan apa yang ia tinggalkan? Jejak apa yang masih membekas setelah ia tidak lagi menetap di alam dunia?  dan apakah lantas dengan kematian buku catatan amalnya terhenti?. Perlu diketahui bahwa orang yang telah meninggalkan kehidupan dunia tidak akan terlepas dari beberapa kondisi berikut;
  1. Tidak meninggalkan jejak atau bekas apapun sehingga catatan amalannya tidak bertambah dan berkurang
  2. Meninggalkan jejak kebaikan dan keburukan yang akan menambah catatan amal kebaikan dan keburukannya
  3. Meninggalkan jejak kebaikan yang pahalanya akan mengalir kepadanya walaupun sudah berada di dalam kubur
  4. Meninggalkan jejak keburukan yang akan ia pikul dosanya selama keburukan itu tidak terputus.
Allah 'azza wajalla berfirman: "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)." [ QS. Yasin : 12].

Diriwayatkan dari jarir Ibn Abdillah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasululah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa memulai suatu sunnah (kebiasaan/amalan) yang baik, lalu diamalkan (diikuti) oleh orang lain, maka dia akan mendapatkan pahala dari amalan tersebut dan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barangsiapa memulai suatu sunnah (kebiasaan/amalan) yang buruk, lalu diamalkan (diikuti) oleh orang lain, maka dia akan menanggung dosa dari amalan tersebut dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka." [HR. Ibn Majah no 169 dan dishahihkan oleh al-Albani]

Maka, jejak kebaikan akan berbuah pahala sedangkan jejak keburukan akan berbuah dosa. Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah mengatakan: "Beruntunglah orang yang apabila ia mati, mati pula bersamanya dosa-dosanya. Dan celaka yang panjang bagi orang yang apabila ia mati sementara dosa-dosanya tetap ada (mengalir) untuknya seratus atau dua ratus tahun atau bahkan lebih, ia di siksa di dalam kubur karenanya dan dimintai pertanggungjawaban tentangnya hingga akhir terputusnya dosa tersebut." [Ihya Ulum al-Din 2/74]. Lantas, hal apa saja yang bisa diharapkan dapat menjadi penambah catatan amal kebaikan walaupun kita sudah meninggal?, berikut di antaranya;

ILMU

Orang berilmu akan mati seperti orang lain namun tidak dengan ilmunya. Ia akan terus hidup menerangi dunia dan memberikan manfaat banyak bagi orang lain. Orang berilmu akan mendapatkan pahala yang mengalir terus untuknya selama orang-orang mengambil manfaat dari ilmunya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
"Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka". [HR. Muslim no 2674]

Siapa yang ambil bagian dari proyek ini, maka ia telah membuka keran pahala yang akan membanjiri catatan kebaikannya. Di zaman sekarang, hampir tidak ada sesuatu yang menghalangi  sesorang untuk menuntut ilmu. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, langkah sekecil apapun akan sangat berharga bahkan saat kita merasa bahwa ini sudah terlambat.  Banyak ulama yang menekuni ilmu justru setelah mereka menginjak usia tua di antaranya; Fudhail ibn Iyadh, Ibn al-'Araby, Ibn Hazm, al-Qoffal, al-'Iz bin Abd al-Salam dan yang lainnya. 'Amr ibn al-'Ala pernah ditanya: "apakah seorang yang sudah berusia harus tetap belajar?'. Beliau pun menjawab: "Jika hidup itu baik untuknya maka begitu pula belajar". [ Al-'aqd al-Farid 2/79] 

Oleh karena itu, hendaknya seseorang memiliki tekad untuk menimba ilmu yang bermanfaat dan mengajarkannya kepada manusia. Namun, jika seseorang memiliki keterbatasan untuk menjadi seorang alim maka jangan sampai ia lewatkan peluang-peluang yang lain.

MEMINDAHKAN  ILMU

Siapa yang membeli sebuah mushaf Al-Quran atau buku bacaan yang bermanfaat kemudian ia menghadiahkannya kepada orang lain atau ia menyimpannya di sebuah masjid kemudian ada orang yang membaca mushaf Al-Quran atau buku tersebut maka ia akan mendapatkan pahala yang terus mengalir sepanjang orang-orang masih mengambil manfaat dari Mushaf dan buku tersebut. Tidak sedikit didapati masjid-masjid yang masih tidak memiliki mushaf-mushaf dengan jumlah dan kualitas yang layak dan perpustakaan-perpustakaan sekolah yang minim buku-buku tentang ilmu agama. Maka, ini menjadi kesempatan emas bagi orang yang memiliki kelebihan harta untuk berinvestasi pada sektor yang tidak akan pernah merugi.

MENYEBARKAN ILMU

Ilmu yang kita sebarkan di berbagai media yang kita miliki akan menjadi warisan yang tetap hidup dan akan mendatangkan pahala yang terus mengalir selama orang-orang mengambil manfaat darinya. Meskipun mayoritas media sosial diisi dengan konten-konten sampah dan tidak mendidik, namun terdapat juga konten-konten ilmu, dakwah dan nasehat di dalamnya sehingga tidak ada kesulitan bagi siapapun yang ingin menyebarkan ilmu walau hanya sekedar membagikan konten-konten ilmu, dakwah dan nasehat tersebut di media sosial yang dimilikinya. Tentunya ini lebih baik dari pada jari jemari kita digunakan untuk melakukan aktivitas scroll media sosial hanya untuk menonton tayangan-tanyangan yang tidak bermanfaat, kabar berita yang belum bisa dipastikan kebenarannya, konten-konten dewasa dan pornografi yang justru akan mendatangkan murka Allah 'azza wajalla.

SHADAQAH JARIYAH

Maksudnya adalah shadaqoh yang pahalanya terus mengalir walaupun orang yang bersedekah tersebut telah meninggal. Diriwayatkan dalam  Shahih Bukhari hadis no 2737, Abullah Ibn Umar menceritakan bahwa ayahnya (Umar) mendapatkan bagian dari tanah (kebun) yang ada di khaibar. Lantas Umar mendatangi Nabi Shallallahu'alaihi wasallam agar memberikan perintah tetang apa yang harus dilakukannya dengan tanah itu. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan umar untuk menyedekahkan tanah tersebut kepada orang-orang faqir dan yang lainnya untuk digarap namun tetap menahan pokoknya artinya tanah itu diwakafkan, hanya boleh dimanfaatkan namun tidak boleh diperjualbelikan. Kebun yang diwakafkan oleh Umar  akan menjadi ladang pahala yang terus mengalir untuknya bahkan setelah beliau wafat.

ANAK YANG SHALIH

Dengan pendidikan yang baik, anak shaleh akan memberikan manfaat kepada orang tuanya bahkan setelah keduanya meninggal. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasaalm bersabda: "sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba di surga, kemudian hamba tersebut berkata: "Ya rabb! Bagaimana saya bisa mendapatkan ini?, Maka Allah menjawab: "Dengan Istighafar dari anakmu untukmu". [Shahih Ibn majah 3/214]

Hal ini tidak hanya berhenti kepada sosok sang anak saja, bahkan jika cucunya melakukan berbagai ketaatan  seperti mendoakan ampunan kepada orang tuanya maka ia juga akan mendapatkan  bagian pahala dari ketaatan tersebut.

MEMBANGUN MASJID

Siapa yang membangun masjid karena Allah 'azza wajalla maka ia akan mendapatkan pahala dari setiap ruku dan sujud dari orang-orang yang melaksanakan salat di dalamnya. Termasuk juga bangunan-bangunan yang bermanfaat bagi islam dan kaum muslimin seperti sekolah, rumah sakit dan yang lainnya. Pahala akan mengalir kepada orang yang membangunnya karena Allah 'azza wajalla walaupun ia sudah berada di dalam kuburan selama orang-orang masih mengambil manfaat dari bangunan-bangunan tersebut.

MENANAM POHON

Orang yang menanam pohon sehingga orang-orang dapat mengambil manfaat dengan memakan buahnya atau menjadikannya sebagai tempat berteduh maka ia akan terus mendapatkan pahala selama pohon itu ada. Dari Anas ibn Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallhu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim menanam sebuh pohon kemudian buahnya dimakan oleh manusia atau hewan melainkan ia akan mendapatkan pahala sedekah."  [HR. Bukhari no 6012]

PERILAKU YANG BAIK

Orang yang memiliki perilaku yang baik di mata masyarakat sehingga membuat orang-orang memujinya dan mendoakan kebaikan untuknya bahkan setelah ia meninggal, maka ia akan mendapatkan manfaat dan kebaikan dari pujian dan doa tersebut, tidak terlebih lagi jika ia dijadikan teladan bagi orang-orang dalam kebaikan.

Sebagaimana jejak yang baik akan berbuah pahala yang terus mengalir begitu pula dengan jejak buruk yang ditinggalkan. Jejak keburukan akan membuahkan dosa yang ditanggung oleh orang membuat jejak tersebut. Ilmu yang sesat dan menyesatkan, media-media seperti buku, majalah, saluran dan situs internet yang diisi dengan konten-konten sampah dan merusak, musik dan nyanyian, serta prilaku buruk yang menjadi inspirasi banyak orang setelah sepeninggalnya, semua hal tersebut akan menjadi beban yang sangat berat baginya di akhirat kelak. 

Pada akhirnya, setiap muslim harus menyadari bahwa setelah usianya  habis dan tidak  mumungkinkannya lagi untuk beramal bukan berarti catatan amal akan ikut berhenti. Hal itu tergantung jejak apa yang ia tinggalkan di kemudian hari. Bertindak dengan hati-hati dan penuh pertimbangan di tengah berbagai fitnah dan godaan adalan jalan keselamatan, karena  itulah hakikat dari takwa. Takwa itu seperti ketika seseorang berjalan di jalanan yang penuh dengan duri dan kerikil tajam yang  mana ia mesti melewatinya dengan penuh kehati-hatian saat melangkah.

Artikel ini diadaptasi/disadur secara bebas dari (الأعمار تفنى والآثار تبقى) oleh Ramdhan Khudair yang dipubikasikan di www.alukah.net

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama