Imam Ibn al-Qoyyim rahimahullah
berkata: “Hendaklah seseorang berhati-hati untuk tidak melulu mengatakan “Saya”,
“saya punya” dan “ada padaku”, karena lafadz tersebut telah
menjerumuskan Iblis, Fir`aun dan Qorun. Dulu Iblis mengatakan saat membandingkan
dirinya dengan Nabi Adam `alaihissalam: “Saya lebih baik dari pada dia”.
Fir`aun juga mengatakan saat dirinya membangga-banggakan kerajaannya: “bukankah
kerajaan Mesir itu milikku?”. Begitu pula Qorun mengatakan saat jumawa
dengan kesuksesannya: “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata
karena ilmu yang ada padaku”.
Tempat yang paling tepat adalah
ketika kata “Saya” tersebut diucapkan pada kalimat-kalimat seperti; “saya
adalah hamba yang banyak dosa”, “saya hamba yang sering berbuat salah”, “saya
orang yang butuh pengampunan” dan “saya mengakui kesalahan saya”. Dan
kalimat “saya punya/memiliki” diletakkan pada kalimat-kalimat “saya memiliki
dosa”, “saya memiliki banyak kesalalahan”, “saya memiliki banyak kelemahan,
kepapaan dan kelemahan”. Dan kata “ada padaku” pada kalimat “ampuni
dosaku di saat serius dan bercanda, ampuni kesalahan yang disengaja ataupun
tidak disengaja, dan semua itu ada padaku”
Zaad al-Ma`aad 2/434-435)